STT Injili Philadelphia Gelar Kuliah Umum, Peran PAK dalam Masyarakat Majemuk
JurnalJustisia.My.Id – Tangerang, Banten – Sekolah Tinggi Teologia Injili Philadelphia (STT. IP) kembali menggelar kegiatan akademik yang inspiratif melalui Kuliah Umum yang dilaksanakan pada Sabtu (11 April 2026), pukul 10.00 sampai 13.00 WIB, di kampus STT. IP., Tangerang, Banten.
Acara ini dibuka dan dipimpin langsung oleh Ketua STT. IP., Dr. Andri Budiman yang didampingi oleh seluruh jajaran dosen, staf, serta mahasiswa.
“Kami menghadirkan narasumber luar.” Ujar Dr Andri.

Diharapkan, katanya lanjut, dapat memperluas wawasan keilmuan dan memberikan perspektif baru bagi seluruh civitas akademika dalam memahami dinamika sosial.
“Itu sebabnya, kami menghadirkan pemateri yang kompeten di bidangnya, yaitu Dr. Denny Zakhirsyah, M.Pd.” Ungkap Dr. Andri yang juga gembala sidang GSJA. Kasih Anugerah Menceng Jakarta Barat.
Dari beliau, tukasnya lanjut, materi yang disampaikan sangat relevan dengan kondisi sosial dan keberagaman yang ada di Indonesia saat ini.
“Yaitu, Peran PAK dalam Masyarakat Majemuk”.
Sementara itu, dalam paparan Dr. Denny Zakhirsyah, menekankan bahwa pendidikan agama tidak bisa lepas dari konteks kehidupan bermasyarakat.
“Pendidikan Agama Kristen bukan hanya soal transfer ilmu di dalam ruang kelas, tetapi harus mampu membentuk karakter yang dapat hidup damai di tengah perbedaan.” Pungkas pembicara yang juga seorang instruktur dalam pelatihan analisis data penelitian dengan menggunakan Statistical Product and Service Solution (SPSS)
Dalam paparan lanjut dikatakan bahwa, di negara majemuk seperti Indonesia, iman kita diuji bukan hanya saat beribadah, tetapi saat kita berinteraksi dengan sesama yang memiliki latar belakang berbeda.
Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa nilai-nilai keimanan harus menjadi jembatan persaudaraan.
“PAK hadir untuk mengajarkan toleransi yang aktif dan mampi menghargai orang lain tanpa harus mengorbankan prinsip iman kekristenan.
Justru, katanya lanjut, karena kita percaya Tuhan, maka kita harus menjadi agen perdamaian yang membawa kasih dan kesatuan,” tambahnya.
Beliau juga menegaskan pentingnya generasi muda gerejawi memiliki wawasan yang luas.
“Jangan biarkan iman kita menjadi sempit dan eksklusif.”
Masyarakat majemuk, pungkasnya lanjut, menuntut kita untuk menjadi cerdas secara sosial dan spiritual, sehingga bisa menjadi garam dan terang yang bermanfaat bagi banyak kalangan.
Antusiasme terlihat jelas dari seluruh peserta yang hadir dalam mengikuti seluruh rangkaian acara. Melalui kuliah umum ini, diharapkan lahir pemahaman yang lebih mendalam mengenai tanggung jawab orang percaya untuk selalu menjaga kerukunan dan memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara.
Reporter: Johan Sopaheluwakan
